CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Selasa, 12 Januari 2010

Gret Graffiti



nah lo dah liat kan tuh grafitty2-nya???
gimana??? keren ga?? yang gambar pertama tuh winner kedua tahun 2008 di kanada.
kalo yang kedua juara 1 ditahun yang sama karena memikat hati para juri dengan efek shadow n lightningnya. kalo kata gue mah, mantap banget nih. pesen gue cuma satu "long live bomber" dan jangan pernah bangga akan hasil karya orang lain, tapi "Just be yourself" aja. ya gag???

Energi Panas Bumi Menyembur di Sabuga ITB



Pembukaan Seminar Nasional “Panas Bumi Sebagai Sumber Energi Unggulan Jawa Barat” sekaligus Launching Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi dan Launching Program S-2 Panas Bumi ITB di Sabuga ITB, 19 Maret 2008, cukup meriah dengan penampilan group angklung Saung Udjo. Terutama waktu mereka membawakan lagu Bohemian Rhapsody -nya Queen.

Sebenarnya acara sosialisasi dan seminar potensi panas bumi sudah sering sekali dilakukan, tapi sepertinya progress pemanfaatan potensi panas bumi belum banyak beranjak. Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 27.791 MW yang tersebar di 256 lokasi, atau setara dengan 40% dari total potensi panas bumi dunia. Baru 2,73% dari potensi itu yang sudah dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

Dari diskusi yang dihadiri perwakilan menteri ESDM, Dirjen Minerba Pabum, Dirut PLN serta akademisi, diungkap beberapa permasalahan yang membuat pemanfaatan panas bumi di Indonesia tersendat: masalah unregulated upstream industry dengan regulated market, pijakan ganda UU Panas Bumi dan UU kelistrikan, perbedaan perspektif Peraturan pusat dan daerah, masalah panas bumi dan hutan lindung, ditambah lagi kekurangseriusan pemerintah dalam menjalankan roadmap mix energy.

Berdasarkan roadmap pemanfaatan panas Bumi Indonesia, target sebesar 2.000 – 3.000 MW di tahun 2008 dan 2012 sebenarnya sangat kecil ungkap Prof. M.T Zen, salah satu nara sumber. Beliau mengusulkan bahwa target kecil itu harus menyimpan harapan besar yakni: memicu industri energi pada umumnya, khususnya industri peralatan pembangkit listrik, meng-establish-kan Indonesia menjadi Negara terkemuka di dunia dalam geothermal technology, serta sebagai strategi jangka panjang dalam ketahanan energi Indonesia.

Pada sambutan acara ini, Rektor ITB memaparkan peran ITB dalam membantu pengembangan panas bumi dengan menyumbangkan inovasi dan modal insani. Salah satu langkah nyatanya adalah dengan melaunching Program Studi Magister Teknik Panas Bumi. Meski dari pengakuan Prof. M.T. Zen, sebenarnya langkah ini juga terhitung lambat, karena jauh hari sebelumnya sebenarnya ITB sudah ditawari bantuan akademis dari New Zealand untuk membangun program studi teknik panas bumi sebagai estafet dari New Zealand yang akan mem-phase out program studi panas buminya.

Untuk lebih mengembangkan penelitian di bidang panas bumi, Prof M.T. Zen mengusulkan pola Energy-Grant University, dengan mengambil analogi dari Land Grant University di USA. Intinya ITB diserahi pengelolaan salah satu sumur geothermal, misalnya di Kamojang, atau ladang geothermal lainnya. Dana yang diperoleh dari pengoperasian sumur ini akan dipergunakan untuk mengembangkan kreativitas pemanfaatan geothermal melalui R&D yang benar.

Andai seluruh potensi panas bumi dimanfaatkan, sebenarnya sudah cukup untuk mengganti semua pembangkit listrik terpasang di Indonesia, sekitar 26.000 MW. Urgensi akselerasi pemanfaatan panas bumi makin mendesak seiring menanjaknya harga minyak dunia yang menembus harga US$ 100/barrel. Ini berarti bahwa harga listrik geothermal makin bisa berkompetisi.

Pemprov Jawa Barat yang memiliki 21,9% potensi panas bumi Indonesia, telah melakukan beberapa langkah percepatan pengembangan pemanfaatan energi panas bumi, dari mulai melakukan survey pendahuluan di Tangkupan Perahu, Tampomas, Cisolok-Sukarame, Sangkan Hurip dan Papandayan, sampai pengusulan penerbitan WKP oleh DESDM yang telah menghasilkan diterbitkannya 3 WKP, yakni WKP Tangkupan Perahu (potensi 100 MW), WKP Tampomas (potensi 48 MW) dan WKP Cisolok (potensi 50 MW). Pelaksanaan proses lelang terbuka 3 WKP di Pemprov Jawa Barat yang dilaunching sekarang ini diharapkan bisa memberi semangat akselerasi pemanfaatan panas bumi di Indonesia.

Sebagai penutup, saya kutipkan epilog dari Prof. M.T. Zen: “Wahai Bangsa Indonesia, mulailah belajar berencana jangka panjang. Membangun bangsa bukan “proyek” sepuluh-lima belas tahun. Ia merupakan perjalanan panjang tanpa akhir. Diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Ini berarti berusaha bukan untuk pribadi atau keluarga. Melainkan untuk Bangsa!”

Sejarah Tebentuknya Minyak

Bagaimana terjadinya minyak dan gas bumi ?

Ada tiga faktor utama dalam pembentukan minyak dan/atau gas bumi, yaitu : Pertama, ada “bebatuan asal” (source rock) yang secara geologis memungkinkan terjadinya pembentukan minyak dan gas bumi.

Kedua, adanya perpindahan (migrasi) hidrokarbon dari bebatuan asal menuju ke “bebatuan reservoir” (reservoir rock), umumnya sandstone atau limestone yang berpori-pori (porous) dan ukurannya cukup untuk menampung hidrokarbon tersebut.

Ketiga, adanya jebakan (entrapment) geologis. Struktur geologis kulit bumi yang tidak teratur bentuknya, akibat pergerakan dari bumi sendiri (misalnya gempa bumi dan erupsi gunung api) dan erosi oleh air dan angin secara terus menerus, dapat menciptakan suatu “ruangan” bawah tanah yang menjadi jebakan hidrokarbon. Kalau jebakan ini dilingkupi oleh lapisan yang impermeable, maka hidrokarbon tadi akan diam di tempat dan tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.

Temperatur bawah tanah, yang semakin dalam semakin tinggi, merupakan faktor penting lainnya dalam pembentukan hidrokarbon. Hidrokarbon jarang terbentuk pada temperatur kurang dari 65 oC dan umumnya terurai pada suhu di atas 260 oC. Hidrokarbon kebanyakan ditemukan pada suhu moderat, dari 107 ke 177 oC.

Apa saja komponen-komponen pembentuk minyak bumi ?

Minyak bumi merupakan campuran rumit dari ratusan rantai hidrokarbon, yang umumnya tersusun atas 85% karbon (C) dan 15% hidrogen (H). Selain itu, juga terdapat bahan organik dalam jumlah kecil dan mengandung oksigen (O), sulfur (S) atau nitrogen (N).
Apakah ada perbedaan dari jenis-jenis minyak bumi ?. Ya, ada 4 macam yang digolongkan menurut umur dan letak kedalamannya, yaitu: young-shallow, old-shallow, young-deep dan old-deep. Minyak bumi young-shallow biasanya bersifat masam (sour), mengandung banyak bahan aromatik, sangat kental dan kandungan sulfurnya tinggi. Minyak old-shallow biasanya kurang kental, titik didih yang lebih rendah, dan rantai paraffin yang lebih pendek. Old-deep membutuhkan waktu yang paling lama untuk pemrosesan, titik didihnya paling rendah dan juga viskositasnya paling encer. Sulfur yang terkandung dapat teruraikan menjadi H2S yang dapat lepas, sehingga old-deep adalah minyak mentah yang dikatakan paling “sweet”. Minyak semacam inilah yang paling diinginkan karena dapat menghasilkan bensin (gasoline) yang paling banyak.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membentuk minyak bumi ?

Sekitar 30-juta tahun di pertengahan jaman Cretaceous, pada akhir jaman dinosaurus, lebih dari 50% dari cadangan minyak dunia yang sudah diketahui terbentuk. Cadangan lainnya bahkan diperkirakan lebih tua lagi. Dari sebuah fosil yang diketemukan bersamaan dengan minyak bumi dari jaman Cambrian, diperkirakan umurnya sekitar 544 sampai 505-juta tahun yang lalu.

Para geologis umumnya sependapat bahwa minyak bumi terbentuk selama jutaan tahun dari organisme, tumbuhan dan hewan, berukuran sangat kecil yang hidup di lautan purba. Begitu organisme laut ini mati, badannya terkubur di dasar lautan lalu tertimbun pasir dan lumpur, membentuk lapisan yang kaya zat organik yang akhirnya akan menjadi batuan endapan (sedimentary rock). Proses ini berulang terus, satu lapisan menutup lapisan sebelumnya. Lalu selama jutaan tahun berikutnya, lautan di bumi ada yang menyusut atau berpindah tempat.

Deposit yang membentuk batuan endapan umumnya tidak cukup mengandung oksigen untuk mendekomposisi material organik tadi secara komplit. Bakteri mengurai zat ini, molekul demi molekul, menjadi material yang kaya hidrogen dan karbon. Tekanan dan temperatur yang semakin tinggi dari lapisan bebatuan di atasnya kemudian mendistilasi sisa-sisa bahan organik, lalu pelan-pelan mengubahnya menjadi minyak bumi dan gas alam. Bebatuan yang mengandung minyak bumi tertua diketahui berumur lebih dari 600-juta tahun. Yang paling muda berumur sekitar 1-juta tahun. Secara umum bebatuan dimana diketemukan minyak berumur antara 10-juta dan 270-juta tahun.

Tujuh perusahaan Berniat Bangun jalur pipa

Sebanyak tujuh perusahaan telah menyatakan minatnya untuk mengikuti tender ruas pipa transmisi gas Cirebon-Semarang dan Gresik-Semarang.

"Perusahaan-perusahaan tersebut sudah mendaftarkan diri mengikuti tender ke BPH Migas," kata Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Tubagus Haryono di Jakarta, Jumat. Ketujuh perusahaan tersebut adalah PT Perusahaan Gas Negara, PT Mueladi, PT Rekayasa Industri, Puncj Lloyd, PT Giga Intrax, PT Agung Mindosungkul dan PT Flour Daniel Indonesia.

Ia menjelaskan, dalam lelang ruas transmisi gas itu, badan usaha pemenang lelang akan ditetapkan sebagai pihak yang berhak membangun jalur pipa transmisi gas bumi pada ruas tersebut dan selanjutnya akan diberikan hak khusus oleh BPH Migas. "Badan usaha ini nantinya yang merencanakan, membangun dan menanggung resikonya. Di samping itu tentu saja dapat mengambil keuntungan dari penyewa pipa sepanjang masa hak khusus dipegang olehnya," kata Haryono.

Dikatakan pula, pemenang lelang adalah bahan usaha yang memiliki kemampuan teknis dan pendanaan yang sanggup menyelesaikan dan mengoperasikan fasilitas tersebut secara efesien. Dengan operasi yang efesien, lanjut Haryono, maka sewa pipa (toll fee) yang akan dipungut dari badan usaha penyewa pipa nilainya rasional dan tidak memberatkan.

Masyarakat (konsumen) gas pun membayar dengan harga yang rasional sehingga semua pihak diuntungkan dengan lelang pipa gas transmisi ini, katanya. Adapun tahapan lelang adalah, pengumuman tender dilakukan pada 2 Juli hingga 6 Juli 2005. Sementara pendaftaran peserta mulai dilakukan pada 7 Juli 2005. Pemasukan dokumen akan dilakukan pada 21 Juli hingga 25 November 2005.

Dokumen yang masuk akan diklarifikasi mulai 28 November hingga 31 Januari 2006. Pemilihan calon pemenang akan dilakukan pada 1 Februari hingga 28 Februari 2006. Pengumuman calon pemenang dilaksanakan pada 1 Maret 2006 dan selanjutnya diharapkan calon pemenang utama bisa diumumkan pada 2 Maret hingga 31 Maret 2006. ant/pur

05 Oktober 2005 PGN bersedia ikut tender pipa gas Kaltim-Jawa PT Perusahaan Gas Negara (PGN) bersedia mengikuti tender pembangunan pipa transmisi gas Kaltim-Jawa. Pasalnya, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) tetap akan menenderkan proyek tersebut.

Direktur Utama PGN WMP Simandjuntak mengatakan, perusahaannya akan tunduk pada setiap keputusan pemerintah. "Kami kan operator," ujarnya di Jakarta kemarin. Karena itu, bila pemerintah menolak memberikan proyek tersebut dan memutuska melelangnya, PGN akan mengikuti lelang ini.

Awal pekan kemarin, PGN mengusulkan agar pembangunan proyek itu dikecualikan dari tender yang diatur BPH Migas. PGN ingin pembangunan pipa transmisi itu ditugaskan pemerintah kepadanya. Usul itu disampaikan melalui surat kepada Menteri ESDM.

Soalnya, PGN bersama konsorsium yang dibentuknya telah mengantongi ijin usaha dari pemerintah. Konsorsium itu telah mengajukan permohonan kepada BP Migas untuk memperoleh pasokan gas dari lapangan gas di Kaltim, yang akan dialirkan melalui pipa transmisi sebesar 7 triliun kaki kubik mulai 2009.

Menurut Kepala BPH Migas Tubagus Haryono, Menteri ESDM belum membuat keputusan atas usulan PGN itu. Kendati pemerintah belum memutuskan, BPH Migas tetap akan melakukan tender proyek pipa transmisi gas Kaltim-Jawa. Tender tidak mungkin ditunda karena akan berdampak pada molornya jadwal pembangunan.

Ia juga menjelaskan, keinginan PGN mengambil alih proyek tersebut tidak didukung ketentuan yang ada. Berdasarkan rencana induk pemerintah, pemipaan gas Kaltim-Jawa termasuk kategori hulu yang bisa digunakan oleh siapapun. Pembangunannya dilakukan oleh Badan Usaha Pemegang Hak Khusus yang diperoleh melalui mekanisme tender.

Karena itu, dalam suratnya, PGN meminta pemerintah mengubah perubahan rencana induk proyek tersebut menjadi pipa kategori hilir. "Tapi rencana kan tidak diubah," kata Tubagus. Karena itu tetap harus dilelang.

Nostalgia Pertamina dan Natuna



Natuna D Alpha merupakan lapangan migas yang sebelumnya dikelola ExxonMobil. Selama ini, Exxon menerapkan bagi hasil 100:0 sebelum pajak, sehingga pemerintah tidak mendapatkan apa pun.
(Istimewa)

Pengamat minyak Pri Agung Rakhmanto menyatakan mendukung penyerahan pengelolaan blok Natuna ke Pertamina. Pasalnya, hal ini dapat dijadikan pembuktian kemampuan sumberdaya dalam negeri dalam memproduksi minyak bumi nasional.

"Buat saya ini lebih bagus kalau dipegang Pertamina dibandingkan diberikan ke Exxon. Berilah kesempatan bagi anak bangsa untuk membuktikan kemampuannya," ujar Pri kepada INILAH.COM di Jakarta, Jumat (8/2).

Kendati merasa optimistis terhadap keputusan pemerintah, Pri masih mengkhawatirkan kinerja Pertamina dalam memproduksi migas di Pekanbaru tersebut. Pasalnya, Pertamina pernah dipengaruhi dan dimanfaatkan bagi kepentingan para pejabat negara, sehingga hasil migas tanah air tidak pernah optimal.

"Kemungkinan gagal pasti ada. Dulu kan Pertamina masih dijadikan 'sapi perah' bagi elit-elit yan berkuasa, dan kita tidak bisa berharap banyak dari situ. Jadi mulai sekarang Pertamina harus membenahi kinerjanya," lanjutnya.

Untuk itu, Pri mengharapkan penyerahan Natuna ke Pertamina kali ini dijadikan permulaan yang baru. Ada kontrak yang jelas, terutama tentang pengaturan bagi hasil yang diterima pemerintah.

"Mestinya kalau itu betul-betul diserahkan ke Pertamina, sejak sekarang ya harus berubah. Natuna harus dijadikan modal awal untuk mencapai perubahan itu. Kita masih belum tau bagaimana bagi hasil yang diberikan ke Pertamina itu. Karenanya, term kontraknya itu harus jelas. Poin saya di itu," jar Pri.

Natuna D Alpha merupakan lapangan migas yang sebelumnya dikelola ExxonMobil. Selama ini, Exxon menerapkan bagi hasil 100:0 sebelum pajak, sehingga pemerintah tidak mendapatkan apa pun. Namun, selama 21 tahun sebagai operator, Exxon dinilai belum melakukan pengembangan yang signifikan sehingga kontraknya dicabut.





Adapun Blok Natuna D Alpha diperkirakan memiliki cadangan gas cukup besar yakni hingga 46 triliun kaki kubik. Namun, 70% cadangan gas tersebut mengandung CO2.

Lebih lanjut Pri menanggapi positif niat pemerintah menerapkan aturan baru dalam cost recovery demi meminimalisir beban negara. Yaitu pemisahan biaya pengembangan lapangan migas yang belum berproduksi di satu blok dengan lapangan yang sudah berproduksi di blok yang sama.

"Seharusnya ini diterapkan dari dulu. Jadi cost recovery hanya berlaku pada yang berproduksi saja," tambahnya.

Adanya revisi itu menurut Pri menunjukkan bahwa sistem cost recovery dalam negeri selama ini belum efisien, sehingga ada yang harus dibenahi.

Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla memutuskan untuk menyerahkan pengelolaan Blok Natuna D Alpha ke Pertamina terkait buntunya negosiasi dengan Exxon. Adapun negosiasi yang telah berjalan setahun ini ditekankan pada revisi porsi bagi hasil.

"Kita harus jelas, maka langkah yang diambil harus menguntungkan Indonesia," ujar wapres usai meninjau lapangan duri milik Chevron Pacific Indonesia di Pekanbaru, Riau, Kamis (7/2).

Dirut Pertamina Ari H Soemarno mengakui pihaknya sudah diberitahu secara informal meskipun belum ada pemberitahuan formal atau tertulis. Namun ia belum tahu berapa persen Pertamina mendapat kepemilikan di blok tersebut.

Pertamina pun sedang mengkaji berbagai pilihan untuk pendanaan pengelolaan blok Natuna D Alpha mulai dari project financing sampai obligasi. "Kita lihat nanti, model apa yang baik, project financing, obligasi," kata Dirut Pertamina Ari Soemarno usai sholat Jumat di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Jumat (8/2).

Namun Ari pun menegaskan, bahwa untuk mengelola Blok Natuna tidak mungkin sendiri. Dengan tingkat kesulitan mengembangkan gas dari Natuna, dibutuhkan teknologi tinggi untuk memisahkan kandungan CO2 yang tinggi dan terletak di laut.

Apalagi investasi yang harus dikeluarkan untuk mengembangkan blok itu sekarang sudah mencapai sekitar US$ 52 miliar. Membengkak dari estimasi sebelumnya yang sekitar US$ 25 miliar.

Karenanya, Ari menegaskan Pertamina akan menggandeng beberapa perusahaan minyak yang sudah berpengalaman. "Pertamina harus cari partner, jelas sendiri nggak bisa. Harus cari partner yang punya modal dan teknologi yang jelas," katanya

Ari menyebut sejumlah mitra yang bisa diajak bekerja sama antara lain ExxonMobil, StatOil, Shell, Eni, dan PetroChina pada pengembangan hulu serta PTT Thailand, Petronas, dan PetroVietnam dalam penjualan.

Pertamina seharusnya merasa bersyukur, sebagai satu-satunya BUMN yang menguasai sumber minyak di negara sebesar Indonesia, Pertamina mendapat berbagai prioritas dan banyak peluang dari segala eksekusi di bidang energi. Namun, tantangan dan hambatan juga tidak kalah besar, terkait kepentingan petinggi negara yang rakus materi.

Senin, 11 Januari 2010

Sistem Pada Rig

Sistem rig dapat digolongkan menjadi lima bagian besar :

Hoisting system : fungsi utamanya menurunkan dan menaikkan tubular (pipa pemboran, peralatan completion atau pipa produksi) masuk-keluar lubang sumur. Menara rig (mast atau derrick) termasuk dalam sistem ini.

Rotary system : berfungsi untuk memutarkan pipa-pipa tersebut di dalam sumur. Pada pemboran konvensional, pipa pemboran (drill strings) memutar mata-bor (drill bit) untuk menggali sumur.




Sumber : www.conservation.ca.gov/. ../qh_drill_rig.aspx


Circulation system : untuk mensirkulasikan fluida pemboran keluar masuk sumur dan menjaga agar properti lumpur seperti yang diinginkan. Sistem ini meliputi (1) pompa tekanan tinggi untuk memompakan lumpur keluar masuk-sumur dan pompa tekanan rendah untuk mensirkulasikannya di permukaan, (2) peralatan untuk mengkondisikan lumpur: shale shaker berfungsi untuk memisahkan solid hasil pemboran (cutting) dari lumpur; desander untuk memisahkan pasir; degasser untuk mengeluarkan gas, desilter untuk memisahkan partikel solid berukuran kecil, dsb.

Blowout prevention system : peralatan untuk mencegah blowout (meledaknya sumur di permukaan akibat tekanan tinggi dari dalam sumur). Yang utama adalah BOP (Blow Out Preventer) yang tersusun atas berbagai katup (valve) dan dipasang di kepala sumur (wellhead).



Power system : yaitu sumber tenaga untuk menggerakan semua sistem di atas dan juga untuk suplai listrik. Sebagai sumber tenaga, biasanya digunakan mesin diesel ber

Trans-Alaska Pipeline System

The Trans-Alaska Pipeline System (TAPS) is a major US oil pipeline connecting oil fields in northern Alaska to a sea port where the oil can be shipped to the Lower 48 states for refining.

Alaska_Pipeline_Map_small.png
Map of the pipeline (Larger Version)

Oil was discovered at Prudhoe Bay in 1968. A pipeline was considered the only viable system for transporting the oil to the nearest ice-free port, over 800 miles (1,280 km) away at Valdez. The oil companies with exploitation rights grouped together as the Alyeska consortium to create a company to design, build and then operate the pipeline. US President Richard Nixon signed the Trans-Alaska Pipeline Authorization Act into law on November 16, 1973, which authorized the construction of the pipeline.

The 800 mile route presented special challenges. As well as the harsh environment, the need to cross three mountain groups and many rivers and streams, the permafrost of Alaska meant that almost half of the pipeline's length had to be elevated rather than buried as normal to prevent the ground melting and shifting. There were five years of surveying and geological sampling before construction began.





The single 48 inch (1.22 m) diameter pipeline was built between March 27, 1975 and May 31, 1977 at a cost of around $8 billion. The pipe was constructed in six sections by five different contractors employing 21,000 people at the peak of work, 31 were killed in accidents during construction. There are twelve pump stations, each with four pumps. Usually only around seven stations are active at one time.

Oil began flowing on June 20, 1977. Since then over 13 billion barrels (2 billion m³) have been pumped, peaking at 2.1 million barrels (330,000 m³) per day in 1988. Around 16,000 tankers have been loaded at the Marine Terminal at Valdez. The terminal has berths for four tankers and cost almost $1.4 billion to build. The first tanker to leave the terminal was the ARCO Juneau on August 1, 1977.

The worst spill relating the pipeline was in 1989 when over 260,000 barrels (41,000 m³) were lost by the Exxon Valdez. The highest losses from the pipeline itself was in February 1979 when malicious damage led to more than 16,000 barrels (2,500 m³) leaking out at Steele Creek. From 1977-1994 there were 30 to 40 spills a year on average, the worst years in terms of number of incidents were 1991-1994 when there were 164 spills, although none were major. Since 1995 the number of spills has been sharply reduced with total losses from 1997-2000 totalling only 6.89 barrels (1 m³).

See also: Trans-Afghanistan Pipeline (TAP)